- LUAR BIASA! PRAMUKA MTSN 7 KUNINGAN DOMINASI KSA 2026 DENGAN RAIHAN JUARA UMUM
- PKS MTSN 7 KUNINGAN BORONG PRESTASI DI DIKLAT PKS DAN POLJAR TINGKAT POLSEK JALAKSANA
- KILAS BALIK 2 DEKADE, REUNI ALUMNI MTSN 7 KUNINGAN SARAT HARU DAN KEBERSAMAAN
- SISWI MTSN 7 KUNINGAN RAIH MEDALI PERUNGGU MOSAIC IPS TINGKAT JAWA BARAT
- MTSN 7 KUNINGAN IMPLEMENTASIKAN PROGRAM TAHSIN, TAHFIDZ, DAN KEPUTRIAN
- MTSN 7 KUNINGAN RAIH DUA PENGHARGAAN KPPN AWARD SEMESTER I 2026
- MTSN 7 KUNINGAN JALIN KEMITRAAN DENGAN TIGA LEMBAGA PROGRAM TAHSIN, TAHFIZ, DAN KEPUTRIAN
- MATAMUDA MTSN 7 KUNINGAN DITUTUP
- TANAMKAN KESADARAN ANTI PERUNDUNGAN, MTSN 7 KUNINGAN HADIRKAN EDUKASI PERLINDUNGAN ANAK
- CEGAH HOAKS DAN PERUNDUNGAN DARING, MTSN 7 KUNINGAN BEKALI MURID BARU LITERASI DIGITAL
CEGAH HOAKS DAN PERUNDUNGAN DARING, MTSN 7 KUNINGAN BEKALI MURID BARU LITERASI DIGITAL

Jalaksana (KEMENAG) Memasuki hari kedua pelaksanaan Masa Taaruf Murid Madrasah (MATAMUDA) di MTsN 7 Kuningan, Selasa (14/7/2026), giliran dunia digital yang menjadi sorotan. Jika sehari sebelumnya para siswa baru dibekali benteng antinarkoba, kali ini mereka digembleng agar cakap dan beretika dalam bermedia sosial. Kegiatan tersebut mengusung tema "Remaja Madrasah Bijak Bermedia Sosial."
Peserta MATAMUDA diajak unjuk kebolehan dalam sesi role playing berupa mini drama bertema konflik di media sosial. Adegan perundungan daring dan penyebaran hoaks yang diperagakan seolah menjadi cermin nyata dari keseharian mereka.
Pemateri yang dihadirkan kali ini adalah Tifani Kautsar, dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan. Dalam paparannya, ia mengungkapkan bahwa saat ini remaja dihadapkan pada tiga tantangan besar, yakni banjir informasi palsu, aksi perundungan di dunia maya, serta ketergantungan berlebihan terhadap gawai.
Tifani menjelaskan bahwa menjadi warga digital yang baik tidak cukup hanya pandai mengoperasikan aplikasi. Ada empat pilar yang harus dikuasai. Pertama, kecakapan digital, yaitu memanfaatkan media sosial untuk hal-hal produktif dan menghindari konten negatif. Kedua, etika digital, yakni berkomentar dengan santun, tidak menyebarkan gosip, menghindari fitnah, serta menahan diri dari ujaran kebencian.
"Bahasa yang kita ketik di kolom komentar adalah cermin diri kita. Jangan sampai satu kalimat kasar merusak nama baik orang lain dan juga diri sendiri," tegasnya di hadapan ratusan siswa.
Poin penting lainnya adalah kebiasaan menyaring informasi sebelum membagikannya kembali. Tifani mengingatkan agar para pelajar tidak mudah terpancing oleh judul-judul bombastis atau video pendek yang sengaja dirancang untuk memicu emosi.
"Jika menerima foto, video, atau kabar yang mencurigakan, cukup hentikan di tangan kalian sendiri. Jangan teruskan," imbaunya.
Ia juga menyoroti bahaya membagikan data pribadi secara terbuka, seperti alamat rumah, nomor telepon, atau foto-foto pribadi. Selain itu, penting bagi setiap pengguna media sosial untuk membuat kata sandi yang kuat demi mengamankan akun. Tak kalah penting adalah menghindari kebiasaan oversharing, yaitu membagikan setiap detail aktivitas atau curahan hati di media sosial.
"Sekali terunggah, jejak digital tidak akan pernah hilang. Bukan hanya sulit dihapus, tetapi juga dapat menjadi bumerang di kemudian hari," ujarnya.
Sebelum mengakhiri sesi, Tifani mengajak para siswa mengingat tiga pertanyaan reflektif sebelum mengunggah sesuatu di media sosial: Apa manfaatnya? Apa dampaknya setelah diunggah? Apakah orang tua saya akan bangga melihat unggahan ini? Menurutnya, tiga pertanyaan sederhana tersebut mampu membantu remaja terhindar dari banyak kesalahan di ruang digital.
Ia juga mengajak para siswa menjadikan media sosial sebagai sarana silaturahmi yang positif, menghargai perbedaan pendapat, serta membiasakan diri membuat konten yang edukatif, inspiratif, dan kreatif.
"Tunjukkan bahwa kalian adalah pelajar madrasah yang ramah, toleran, dan menginspirasi. Itulah budaya digital yang seharusnya kita bangun," tambahnya.
Salah seorang peserta MATAMUDA, Muhammad Agam, mengaku memperoleh banyak pelajaran dari sesi tersebut.
"Selama ini saya sering melihat teman-teman berkomentar kasar atau ikut menyebarkan video tanpa mengetahui kebenarannya. Sekarang saya jadi paham bahwa setiap ketikan memiliki konsekuensi. Ke depan saya ingin lebih berhati-hati dan kalau bisa membuat konten yang bermanfaat," ungkapnya.
Kegiatan yang berlangsung interaktif ini diharapkan menjadi bekal berharga bagi generasi muda dalam menghadapi derasnya arus informasi. Sebab, di era digital, kecerdasan bermedia menjadi bekal penting yang harus dimiliki setiap peserta didik.
Kontributor: Intan Darmayanti



